AKPER PPNI SURAKARTA

Ada apa dengan Bilqis?

ATRESIA BILLIER PADA BILQIS

Tentu kita sangat iba melihat nasib Bilqis Anidya Passa (17 bulan), bayi penderita atresia
bilier. Bayi mungil yang kini masih dirawat di RSUP Kariadi Semarang ini harus menjalani operasi transplantasi (pencangkokan) hati.

Sebenarnya penyakit apakah atresia bilier itu ? Atresia bilier adalah kelainan karena tidak terbentuk atau tidak sempurnanya saluran empedu. Hal ini berdampak kerusakan pada hati dan sirosis (kerusakan permanen) hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal. Sebagian besar bayi penderita penyakit ini akhirnya tidak tertolong lantaran tidak punya biaya untuk cangkok hati. Sementara kasus yang dialami Bilqis hanya satu dari beberapa kasus serupa yang pernah terjadi di Indonesia.

Di dalam tubuh, empedu mempunyai fungsi yang sangat vital yaitu membuang limbah metabolik dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak di dalam usus halus. Bila sistem itu tidak berfungsi, racun yang masuk ke tubuh tidak bisa tersaring lagi. Terkontaminasinya racun ke dalam darah akan menimbulkan penderitaan baru.

Menurut Dokter Bakri SpB, FINACS, ahli bedah dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), atresia bilier merupakan kelainan bawaan atau congenital disease pada kesehatan bayi yang paling ditakuti oleh setiap orangtua. “Kelainan ini bisa muncul pada saat ibu yang sedang mengandung, saat bayi lahir, atau tampak setelah beberapa hari, bulan, bahkan tahun setelah bayi dilahirkan. Atresia bilier terjadi karena perkembangan abnormal dari saluran empedu didalam maupun di luar hati. Tetapi penyebab terjadinya gangguan perkembangan saluran empedu ini belum diketahui,”

Kejadian kelainan bawaan ini sekitar 3 persen dari seluruh kelahiran bayi yang memiliki anomaly major (kelainan bawaan besar). Pada penderita atresia bilier gejala yang biasanya timbul dalam waktu dua minggu setelah lahir, yaitu air kemih bayi berwarna gelap, tinja berwarna pucat, kulit berwarna kuning, berat badan tidak bertambah atau penambahan berat badan lambat, dan hati membesar. Sedangkan pada saat usia bayi mencapai 2 hingga 3 bulan, akan timbul gejala seperti gangguan pertumbuhan, gatal-gatal, serta tekanan darah tinggi pada vena porta yaitu pembuluh darah yang mengangkut darah dari lambung, usus dan limpa ke hati.

Kelainan atresia bilier harus segera di deteksi dan ditangani agar tidak berlanjuit menjadi problem kesehatan bayi, sebab jika terlambat menangani akan menyebabkan kelainan yang menetap bahkan menyebabkan kematian. Karena keracunan akibat billirubin yang menumpuk dan berlebihan di dalam tubuh .

Saluran empedu pada atresia billier yang tidak berfungsi dengan baik akan mengakibatkan aliran bilirubin (hormone yang dihasilkan oleh sel ,hati) menjadi tidak lancar, baik di dalam hati (intrahepatal) ataupun di luar hati (posthepatal) tergantung di mana atresia bilier terjadi. Pada atresia bilier saluran empedu di luar, hati mengalami kerusakan hebat sehingga empedu dari hati tidak dapat dialirkan ke usus 12jari. Empedu yang tertahan karena adanya sumbatan saluran empedu pada atresia bilier ini akan merusak hati dengan cepat dan hebat sehingga terjadi sirosis hati.

Tujuan utama pengobatan atresia bilier adalah menghilangkan kebuntuan yang terjadi. Hal ini biasanya dengan dilakukan operasi yaitu menghubungkan saluran yang tidak buntu langsung ke usus halus. Namun bila sudah terjadi keadaan sirosis, biasanya jalan pengobatan adalah dengan transplantasi. meski kelainan atresia bilier belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun bagi ibu hamil disarankan untuk selalu waspada karena diduga disebabkan pengaruh dari bakteri, parasit, tumor, atau kadar tiroid yang berlebihan. Masa kehamilan yang paling rawan adalah pada tiga bulan pertama, karena pada saat ini organ-organ terbentuk. Biasanya untuk membuktikan adanya kelainan atresia bilier pada bayi, terdapat dua tahap pemeriksaan yang harus dilakukan, yakni pengambilan jaringan hati atau biopsi serta kolangiografi intraoperatif atau memasukkan cairan tertentu ke jaringan empedu untuk mengetahui kondisi saluran empedu. ( Sumber dari Koran Joglosemar)

10 Februari 2010 - Posted by | info kesehatan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: